"Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala.." [Ali ra]

Monday, 10 October 2011

SURGA

Di Surga itu gimana sih... Berikut Allah menggambarkan surga dalam Al Qur'an, yang belum pernah dilihat manusia, dirasakan manusia, bahkan dalam bayangan, halusinasi pun tidak...
1. Penghuni surga itdak merasakan lelah seperti di dunia (QS. 15:48)
2. Tidak ada rasa lesu bagi penghuni Surga (QS. 35:35)
3. Dicabut rasa dendam di hati para penghuni Surga (QS. 7:43)
4. Tidak mengalami pusing dan mabuk di surga oleh karenanya khamar menjadi salah satu minuman di sana sebab pengharaman itu illatnya memabukkan (QS. 56:19)
5. Tidak mengalami kematian si Surga (QS. 44:56)
6. Penghuni surga memiliki tubuh baru beda dari dunia (QS. 10:4)
7. Tidak ada sengatan matahari dan tidak ada dingin yg sangat dan ada naungan (QS. 76:13-14)
8. Dilayani oleh pelayan-pelayan muda dan tetap muda bagaikan Mutiara (QS. 76:19)
9. Penuh kenikmatan dan bagaikan kerajaan (QS. 76:20)
10. ada mata air salsabil (QS. 76:18)
11. Tidak ada kata yang tidak berfaedah dan tidak ada perbuatan Dosa (QS. 52:23)
12. Dinikahkan dengan bidadari …. wow nikah ! (QS. 52:20)
13. Dipuaskan oleh Tuhan (QS. 52:19)
14. Para istri digembirakan (QS. 43:70)
15. Segala yang kita makan di surga tidak akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan (QS. 40:40)
16. Para pelayan surga tidak ganjen (QS. 38:52)
17. Surga penuh kenikmatan (QS. 26:85)
18. Paling baik dan paling indah tempat tinggalnya (QS. 25:24)
19. SURGA adalah apa saja yang kita inginkan terlaksana (QS. 25:16)
20. Penghuni surga diberikan istana (QS. 25:10)
21. Diberikan perhiasan (QS. 22:23)
22. dll

Friday, 29 July 2011

Menyelami Samudera Al Mulk Ayat 2 edisi Hikmah Ramadhan

Bismillah...
Masih dalam bahasan QS Al-Mulk : 2, ahsanu ‘amala, menjadi baik saja tidak cukup, tapi menjadi lebih baik, edisi 28 Juli 2011, Ust. Drs H. Syathori Abdul Rouf, al Hafiz. Darush Shalihat.
Keseluruhan hidup adalah hikmah, tanpa hikmah akan terasa hambar, kering, gersang, tak bermakna. Hikmah adalah kebaikan yang kita temukan di balik semua peristiwa. Ia mata air segala kebaikan. Darinya menetes sejuknya sikap bijak, darinya mengalir beningnya ucap mulia, darinya memancar jernihnya cahaya kebenaran. Sehingga orang yang menemukan hikmah berarti ia menemukan kebaikan. “Dia memberikan hikmah (kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”(QS. 2 :269).                                           Kriteria kebaikan adalah ;
  • lurusnya pikiran,
  • jernihnya perasaan dan,
  • tepatnya tindakan.
Tidak mungkin orang menemukan kebaikan jika pikirannya belum lurus, perasaannya belum jernih dan tindakannya belum tepat.
Pikiran yang lurus adalah pikiran yang menuntun kita untuk yakin bahwa segala sesuatu itu terjadi pasti seizin Allah. Berperasaan jernih berarti yakin bahwa kejadian apa pun selalu membawa manfaat untuk kita. Keyakinan ini akan menuntun kita melafadzkan doa, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.(QS. 3:191). Contoh ; suatu ketika motor ditabrak orang, lecetlah motor kesayangan kita itu. Lantas...Bagaimana sikap kita? Marah? Pada siapa? Jika kita menyadari bahwa semua terjadi atas izin Allah dan mengambil hikmah kesabaran dari kejadian ini, maka nilai jual dunia motor kita itu benarlah murah, akan tetapi nilai jual akhirat jauuuuuuuh lebih mahal.
Tepatnya tindakan, berarti apa pun yang kita lakukan selalu memberi manfaat untuk diri dan orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (khairunnas anfa'uhun linnas).
Pintu kebaikan adalah hikmah. Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah. Ramadhan merupakan peluang bagi kita untuk memperoleh pikiran yang lurus, jernihnya perasaan, tepatnya tindakan.
Hikmah-hikmah Bulan Ramadhan ;
1.     Syahrul Maghfiroh
Bulan terampuninya dosa. Abu Hurairah ra berkata, Nabi SAW bersabda :”Barangsiapa yang berpuasa(riwayat lain menyebut beribadah) Ramadhan, dengan iman dan ihtisab kepada Allah, maka  dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaqun 'alaih). Setengah sisi bulan Ramadhan adalah kebaikan, setengah sisi yang lain adalah apa yang kita lakukan(amal kita). Barangsiapa yang bertemu Ramadhan tetapi dosanya tidak terampuni berarti ia tidak ingin masuk surga, orang itu akan masuk neraka dan Allah akan menjauhinya. Tanda terampuninya dosa adalah ketika diakhir Ramadhan, terasa berat berpisah dengan bulan mulia ini, dan mengisinya dengan ibadah penuh semangat. Rasa berat, juga semangat hanya Allah dan diri kita saja yang mengetahuinya. Sehingga tanda ini ada pada diri kita sendiri. Jika kita tahu kebaikan/rahmat bulan Ramadhan, maka pasti kita ingin seluruh bulan dalam satu tahun adalah bulan Ramadhan.
2.     Syahrul Junnah
Bulan tameng, di bulan ini kita ditamengi dari keburukan-keburukan. Apa bila masuk bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dirantai syetan-syetan.
3.     Syahrul Hasanat
Bulan kebaikan. Bulan Ramadhan, bulan dimana kita mudah melakukan kebaikan dan dilipatgandakan pahalanya. Amalan sunah mendapat pahala amalan wajib di bulan lain, amalan wajib dilipatkan 70 kali lipat. Salah satu contoh kita mudah kebaikan dalam bulan ini adalah menyegerakan berbuka, memberi makanan untuk berbuka orang berpuasa, dll.
4.     Tarbiyah Ikhlas
Ikhlas ;
-  beramal semata-mata karena Allah Ta’ala (definisi ikhlas dalam Al Qur’an.
- berarti menghadapi apa pun dan siapapun dengan hati yang lapang (definisi ikhlas dalam bahasa melayu, contoh ; saat dihina orang, tidak membalas dan mengambil sikap ‘saya ikhlas’, saat kehilangan sesuatu kita sering mengatakan, "ya sudah, hilang tidak apa-apa, saya ikhlas")
Kita hidup ditengah-tengah dua himpitan, yaitu himpitan kesenangan dan himpitan kesusahan. Dalam kesenangan, kita bersyukur, dalam kesusahan kita bersabar. Himpitan kesenangan lebih keras dari pada himpitan kesusahan. Ketika diberi kesenangan tapi membuahkan kekikiran, berarti ia tidak ikhlas, ia terhimpit oleh kesenangan. Bahagia, lapang akan diperoleh dari sejauh mana ia ikhlas. Ikhlas berarti memadukan antara indahnya sabar menghadapi musibah, dan eloknya syukur menerima nikmat karunia-Nya. Sabar-syukur dua sisi kehidupan. [dicontohkan juga oleh Ustadz, tarbiyah ikhlas yaitu saat thawaf, dimana ketika thawaf jutaan manusia saling berhimpitan, jika bukan karena ikhlas menerima kesenangan dan kesusahan maka yang akan diperoleh hanyalah penderitaan, keluh kesah]
Ramadhan mengajari kita ikhlas. Empat jenis keikhlasan dari hikmah Ramadhan ;
Ø  Ikhlas menerima musibah yang sudah di takdirkan Alloh. Saat puasa kita merasa lapar, haus, takdirnya begitu. Jika kita ikhlas menerimanya, maka kita akan peroleh hikmah yang berlimpah. Misal ; dapat meningkatkan kepekaan sosial, melembutkan hati.
Ø  Ikhlas menunggu datangnya nikmat.
Kenikmatan orang berpuasa adalah saat berbuka dan saat bertemu Tuhannya. Ikhlas menunggu datangnya nikmat dengan melakukan amal kebaikan, misal membaca Al Qur’an. Jodoh nikmat bukan? tanya Ustadz, "nikmat" jawab hadirin. menunggu datangnya nikmat jodoh bukanlah duduk-duduk di bunderan UGM, lanjut beliau disambut riuh hadirin. Sebaik-baik tempat menunggu jodoh adalah masjid, menjadi takmir masjid, seloroh beliau sambil tersenyum pada mahasiswa (kebetulan mereka menjadi takmir masjid).
Ø  Ikhlas saat nikmat datang menghampiri.
Saat waktu buka tiba, berbukalah seperlunya. Keikhlasan berbuka seperlunya dengan tujuan agar tidak tertinggal sholat maghrib berjamaah di masjid.
Ø  Ikhlas terhadap kemungkinan datangnya musibah, yakni dengan bersiap diri.
Bersahurlah, sesungguhnya di dalam sahur ada barokah. Tarbiyah sahur ; dengan sahur kita mempersiapkan diri dengan kebutuhan jasmani untuk beraktivitas siang harinya. Misal ; siang hari kehujanan, jika fisik kita tidak kuat maka flu mudah menyerang. Persiapkan kekuatan fisik dengan sahur.
Hikmah Ramadhan sebagian kita bisa mengetahuinya, tetapi banyak yang hanya Allah mengetahuinya. Hikmah-hikmah yang tidak kita ketahui ini bisa melimpah ke kita jika kita tahu cara memperolehnya. Abu Hurairah ra berkata, Nabi SAW bersabda :”Barangsiapa yang berpuasa(riwayat lain menyebut beribadah) Ramadhan, dengan iman dan ihtisab kepada Allah, maka  dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaqun 'alaih).
Iman, berarti “membiarkan” pikiran dan perasaan kita dipengaruhi oleh Allah Ta’ala. Suka dan tidak suka, standart kita Allah saja. Motif kita berpuasa, motif kita beramal cukuplah Allah semata.
Ihtisab ialah berusaha memilih amal yang paling disukai Allah Ta’ala.
Iman dan ihtisab inilah cara memperoleh limpahan hikmah di bulan Ramadhan.


“Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1432 H, mohon maaf lahir dan batin” Mari kita azzamkan Ramadhan kali ini kita penuhi dengan apa yang Allah sukai saja.

Thursday, 28 July 2011

Gusti Ora Sare



Album : Gusti Ora Sare
Munsyid : Suara Syuhada

Keno opo ati digawe kuciwo
wong nyatane rizki tan keno di nyono
lha njur ngopo urip di gawe nelongso
wong nasibe wis di nulis sing kuwoso

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

Mengapa hati dibuat kecewa
bila kau tau dunia sementara
mengapa jiwa selalu merana
bila kau hidup dalam naunganNya

Allah tidak tidur
Allah tidak tidur
Allah Maha tau segala-galanya

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

didunia hidup hanya sementara
carilah dunia cukup yang sekedarnya saja
di akhirat hidup untuk selamanya
bersiaplah dengan bekal iman dan taqwa

didunia hidup hanya sementara
carilah dunia cukup yang sekedarnya saja
di akhirat hidup untuk selamanya
bersiaplah dengan bekal iman dan taqwa

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

Wednesday, 20 July 2011

Ahlan wa Sahlan Ya...Ramadhan


Ahlan wa sahlan ya Ramadhan...ditulis oleh beliau Ustadz Syatori AR, Drs. Pengasuh Pondok pesantren mahasiswi Darush Shalihat Yogyakarta. Sebagai bekal menyambut Ramadhan 1432 H. Untukmu yang sedang merindu...
Semoga bermanfaat...

Ramadhan, harum baumu memutihkan kehidupan. Cerah wajahmu memerahkan nyali perjuangan. Rekah senyummu menguningkan padi ketundukkan. Lembut sapamu menghijaukan padang ketenangan...

Subhanallah, Tamu Agung itu...
Ramadahn, tamu agung yang diruindu itu sebentar lagi akan tiba mengunjungi hari-hari kita selama sebulan penuh.
Ya Allah,berkahilah Ramadhan kami kali ini, jadikan ia taman surga, tempat kami membebaskan diri dari segala jeratan belenggu hawa nafsu. Jadikan ia mentari selalu menerangi jalan hidup kami menuju surga-Mu...
Apa yang sudah kita siapkan?
Siapa pun tamunya, pasti membawa berkah, lebih-lebih tamu Ramadhan. Tapi siapkah kita menerima berkah Allah lewat Ramadhan ini? semua bergantung pada sikap terhadapnya, baik sebelum, ketika dan sesudah ia datang.

Adab menerima tamu
Islam menetapkan bahwa menerima tamu itu ada adabnya, yaitu ;
  1. Menyiapkan rumah kita agar tak terkesan sebagai rumah hantu.
  2. Membersihkan rumah dari segala kotoran yang mengganggu
  3. Menyiapkan hidangan terlezat selera “daqu”
  4. Menyambut dengan senyum menyentuh qalbu
  5. Menempatkan tamu di tempat yang nyaman

Rumah Hantu, Hati Hantu
Siapa pun tidak akan mau bertamu di rumah hantu, yaitu rumah yang pantasnya dihuni oleh makhluk hantu (pasti ngeri dan serem!!)
Hati hantu adalah hati yang di dalamnya tidak ditemukan sifat-sifat terpuji yang dibenci oleh para hantu bernama syetan, seperti : qana’ah, tawakal, khauf, roja’, ikhlas, rahmah dst. Justru yang bercokol dihati hantu adalah sifat-sifat tercela yang disuka hantu syetan, seperti ; syirik, nifaq, riya’, sum’ah, sombong, dendam, kiki dll.
Ramadhan tidak akan mau mengunjungi siapapun yang masih berhati hantu seperti ini. karena itu, inilah saatnya kita menghilangkan bahkan mengikis habis semua “hantu” yang masih bergentanyangan memenuhi jagat hati kita, dengan kita hunuskan pedang jihadun nafsi (berjuang melawan nafsu) dan kita babatkan ke nafsu yang telah menghantukan hati kita, dengan cara :
  1. Senyumlah kepada orang tidak kita suka
  2. Berikanlah segala yang kita suka (Alhamdulillah...)
  3. Beramallah dengan kebaikan yang nafsu kita sangat tidak suka (Laa ilaaha illallaah...)
  4. Balaslah keburukan orang dengan kebaikan yang paling ia suka (Allahu Akbar...)

Rumah kotor, Hati Kotor
Siapapun akan enggan bertamu di rumah yang kotor dan bau. Kalau pun terpaksa bertamu, hanya bisa bertahan beberapa menit.
Ramadhan adalah tamu yang sangat bersih dan suka dengan yang bersih. Maka ia sangat suka mengunjungi hamba-hamba yang berhati bersih, dan enggan serta tidak betah mengunjungi orang-orang yang berhati kotor dan bau. Sehingga orang-orang yang berhati kotor hanya mersakan kehadiran Ramadhan itu hanya dalam beberapa hari saja. Selebihnya tidak terasa lagi kehadirannya, adanya sama seperti tiadanya (Wal ‘iyadzu billah)

Hidangan Lezat, Hati Nikmat
Setiap tamu pasti senang disuguh hidangan lezat nan nikmat. Begitu pulalah tamu Ramadhan, yang sebentar lagi datang mengunjungi kita, sangat suka dengan hidangan-hidangan lezat lagi nikmat. Apakah hidangan itu? Bukan makanan. Bukan pula minuman, melainkan amal ibadah dan amal shalih yang telah kita rasakan nikmat-lezatnya sampai ke hati kita.
Amal ibadah dan amal shalih yang belum dirasakan nikmat lezatnya sampai ke hati, akan menjdai suguhan yang tidak enak bagi sang tamu Ramadhan. Akibatnya, diapun tida betah membersamai kita, dan kita pun damal 2 atau 3 hari kemudian merasakan letih, jenuh, dan bosa dengan mala-amal Ramadhan. Ramadhan pun “pergi” meninggalkan kita tanpa pesan, tanpa kesan.
Bagaimana caranya agar kita bisa menikmati lezati segala amal baik kita? Berikut langkah-langkahnya :
  1. Membeningkan hati sebening-beningnya
  2. Mengikhlaskan semua amal baik kita semata-mata karena dan untuk Allah
  3. Berjuang untuk tidak pernah henti mengamalkan segala kebaikan.

Senyum Ramadhan, bahagia Kita
Tamu mana yang tak senang disambut snyum tulus menawan. Ramadhan pun akan bahagia, saat dari “Jauh” ia melihat kita tersenyum bahagia menyambut.
Senyum kita adalah bahagia kita yang tak terperi, berseri bagai cerianya pagi hari menyambut hadirnya mentari, atau bagai sang putri yang mengimpikan menjadi bidadari.
Senyum kita kepada Ramadhan adalah buncahan rindu yang mensyahdu dalam suratan doa-doa yang tiada henti agar kita segera dipertemukan kembali dengan Ramadhan.
Senyum kita kepada Ramadhan adalah serpihan cinta yang menyatu dalam siratan khusyu’ khudu’nya hati kita dalam dekapan ta’abbud kepada-Nya.
Akhirnya, semoga kelak kita bisa menempatkan Ramadhan di tempat yang paling disukainya, yaitu hati yang telah berselimutkan iman dan ihtisab kepada Allah Ta’ala.
Iman akan membuat amal-amal Ramadhan kita lakukan semata-mata karena cinta kepada Allah Ta’ala dan rindu untuk berjumpa dengan-Nya di taman surga.
Ihtisab akan membuat semua amal baik kita di bulan Ramadhan ini kita lakukan semata-mata karena Allah, hanya ingin dibalas Allah Ta’ala. Dan cukuplah hanya Allah sebaik-baik yang memberi balasan.
Rasulullah SAW bersabda :”barangsiapa yang berpuasa(riwayat lain menyebut beribadah) di bulan Ramadhan, semata-mata karena iman dan ihtisab kepada Allah, maka akan diampunilah dosa-dosanya di masa lalu.” (HR. Muslim)
Semoga Ramadhan kita kali ini menjadi Ramadhan yang terbaik dalam hidup kita. Karena bisa jadi inilah Ramadhan kita yang terakhir...
Ya Allah akhirilah hidup kami husnul khotimah. Dan jadikanlah surga sebaik-baik tempat pertemuan kami dengan semua orang yang kami cintai, di alam akhirat nanti.

Sunday, 3 July 2011

Memilih Hidup Sekali Lagi

Terinspirasi dari www.abatasa.com, kolom motivasi, mengajari saya untuk lebih indah menatap kehidupan. Bahwa disetiap yang Alloh anugerahkan tersimpan sejuta makna, bahwa disetiap ujian yang Dia berikan tersimpan kasih sayang-Nya sebagai pengajaran bagi saya untuk lebih baik. Bahwa apa yang ada pada diri ini segalanya sempurna, sebagai hal terbaik. Dan...inilah inspirasi itu,

Alkisah, Tuhan hampir setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi; ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Ia membagikan pertanyaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Tikus dengan cepat menjawab, "Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia."
Kucing pun dengan sigap menjawab, "Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus."

Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, "Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali."
Sebaliknya, si elang segera menjawab, "Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas."

Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, "Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan."
Tapi laki-laki menjawab, "Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita."

Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.

Netter yang bijaksana,

Pepatah mengatakan, "Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri." Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!

Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihat kebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.

Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?

Salam sukses luar biasa!
http://www.abatasa.com/kolom/detail/motivation/664/memilih-hidup-sekali-lagi-finance.html

Tuesday, 28 June 2011

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah

www.dakwatuna.com - Oleh: Thomas Djamaluddin

Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah Isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits

Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah umat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kejadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (zhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mukmin semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit

Peristiwa Isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfir. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu

Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang di batas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detail tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.
Rasulullah bersama Jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks Isra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah

Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ mi’raj bagi umat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenomena cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua umat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasulullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ketenteraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

Friday, 6 May 2011

Carilah Jalan Menuju Hidayah Rabb-mu

Pagi ini, saya mendapat solusi dari seorang kawan baik jika saya masih berniat mengikuti acara sabtu-ahad, 7-8 Mei 2011 di luar kota. Bla bla bla...rencana perjalanan saya diatur olehnya. Saya tersenyum, teringat perjalanan yang sama, pernah kami lalui. Berdua. Perjalanan yang sempat membuat keempat mata kaki saya tenggelam alias bengkak, tapi ingin mengulang kembali.  Bukan bengkaknya, hehehe, tapi nuansa ukhrowinya. "Saya tidak mungkin berangkat sendiri", sela saya. " Saya akan temani, itu kan niat baik njenengan, sapa tahu nanti disana ketemu "...", njenengan kan ingin "...",  saya akan mengeluarkan uang meski saya berhutang," sambung beliau dengan tawa sambil berlalu. Lantas...saya mencoba mengintip "niat baik" yang beliau katakan. Benarkah ini niat baik? Lillahi Ta'aala? atau sekedar obsesi saya akan "sesuatu"? Sepertinya justru kawan saya itulah yang memiliki niat baik. Semoga Allah membalas niat baik kawan saya dan mencatatnya sebagai amal baik, pemberat timbangan di Yaumul Hisab kelak. Aamiiin

Carilah Jalan Menuju Hidaya Rabb-mu. Aidh Abdullah al-Qarni di http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/carilah-jalan-menuju-hidayah-Rabbmu, mengingatkan saya akan semua hikmah yang Allah berikan. Pagi ini, setelah membaca tulian ini dan berbincang dengan kawan baik saya tadi, entah mengapa jantung saya berdetak lebih cepat (^_^)

Jum'at Raya...,
Ya Rabb... kumpulkanlah hamba bersama hamba-hamba yang Engkau cintai, ijinkanlah hamba ditengah majelis yang Engkau berkahi, jadikanlah mimpi-mimpi hamba nyata adanya. Ya Rabb...anugerahkanlah hamba akan cinta-Mu dan cinta orang-oarang yang cintanya bermanfaat bagiku disisi-Mu. Ya Allah...segala yang Engkau karuniakan kepadaku yang aku cintai, jadikanlah  ia kekuatanku dalam segala yang Engkau cintai. Ya Allah...segala yang engkau jauhkan dariku yang aku cintai, jadikanlah ia kehilanganku untuk segala yang Engkau cintai. Aamiiin.


Carilah Jalan Menuju Hidaya Rabb-mu,
Abud Dzar yang menyambut seruan dakwah Nabi Shallahu alaihi wa sallam, sesudah Nabi menyebarkan kepadanya dengan sederhana lagi mudah seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Sesudah itu Abu Dzar ra langsung pergi ke bukit Shafa, lalu berteriak : "Hai orang-orang Quraiys, aku telah mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".
Kalimat sangat menyengat perasaan pemimpin yang melampaui batas dari kalangan orang-orang kafir Quraiys. Mereka berdatangan kepadanya dari segala penjuru dan langsung memukulinya beramai-ramai, hinga hampir saja Abu Dzar tak sadarkan diri dan tubuhnya bermandikan darah. Rasul pun datang kepadanya,sedang tubuhnya penuh dengan darah, karena luka pukulan mereka dan keadaannya seakan-akan mengatakan :
"Jika memang menyenangkan hatimu apa yang telah dilakukan oleh orang yang dengki kepada kami, maka luka ini tidak lah terasa sakit , jika engkau merasa ridha kepadaku".
Rasul Shalallahu' alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda : "Aku tidak memerintahkan ini kepadamu".
Apa artinya pembelaan seperti ini? Apa artinya pengobanan seperti ini?
Selanjutnya, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sekarang pulanglah ke kampung kaummu. Sampai bersua nanti!
Abu Dzar ra pulang dan menebarkan hidayah kepada kaumnya, karena sesungguhnya seorang muslim pada hari dia masuk Islam, bertujuan agar dengan Dia memberi petunjuk kepada banyak orang, karena manusia sangat membutuhkan seruan dakwahnya.
"Engkau adalah perbendaharaan mutiara, dan pertama dalam kemelut dunia, meskipun mereka tidak mengenalmu. Engkau adalah dambaan semua generasi, mereka merindukan seruanmu yang tinggi, meskipun tidak mendengarmu".
Abu Dzar bangkit dan mengumpulkan semua kabilahnya di padang sahara, lalu berkata kepada mereka : "Darahku haram bagi darahmu, tubuhku haram bagi tubuhmu, dan harta haram bagi hartamu, sebelum kamu beriman kepada Allah", tegas Abu Dzar. Selanjutnya, Abu Dzar menerankgan agama Islam, seperti yang didengarnya dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.
Belum lagi ia tidur pada malam itu telah beriman sebanyak 70 keluarga berikut dengan kaum wanita, kaum pria, dan anak-anak mereka. Selanjutnya, Abu Dzar menghadap ke arah sebuah pohon yang ada di sana dan dia mulai bermeditasi, karena sesungguhnya dia belum mengetahui shalat dan memang shalat waktu itu belum difardhukan.
Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, tiba-tiba datang Abu Dzar di barisan paling depan dari kaummnya yang telah beriman. Para shahabat pun keluar. Mereka mengira bahwa di sana ada pasukan musuh yang datang dengan maksud menyerang kota Madinah.
Nabi Shallahu alaihi wa sallam keluar pula bersama dengan para shahabatnya dan ternyata yang datang adalah Abu Dzar, seorang lelaki yang hidup atas dasar kalimah "laa ilaaha illalloh", dan bersujud kepada Tuhan yang telah menurunkan kalimah "laa ilaaha illalloh", sedang dibelakangnya adalah para muridnya yang telah berhasil di-Islam-kannya.
Setelah melihat kedatangan peringatan dini yang membawa berita gembira alias Abu Dzar ra ini, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, tersenyum :
"Tiada seorang pun yang bernaung di kolong langit dan bercokol diatas hamparan bumi ini lebh jujur ucapannya, selain Abu Dzar", ujar Rasul Shallahu alaihi wa sallam.
Jadi, penyebab yang paling besar bagi seorang hamba untuk meraih hidayah ialah bila mempunyai keinginan yang keras untuk mendapatkannya sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (QS : al-Ankabut : 69).
Undang kami ke Baitullah-Mu Ya Rabb...