"Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala.." [Ali ra]

Tuesday, 28 June 2011

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah

www.dakwatuna.com - Oleh: Thomas Djamaluddin

Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah Isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits

Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah umat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kejadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (zhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mukmin semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit

Peristiwa Isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfir. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu

Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang di batas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detail tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.
Rasulullah bersama Jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks Isra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah

Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ mi’raj bagi umat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenomena cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua umat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasulullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ketenteraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

Friday, 6 May 2011

Carilah Jalan Menuju Hidayah Rabb-mu

Pagi ini, saya mendapat solusi dari seorang kawan baik jika saya masih berniat mengikuti acara sabtu-ahad, 7-8 Mei 2011 di luar kota. Bla bla bla...rencana perjalanan saya diatur olehnya. Saya tersenyum, teringat perjalanan yang sama, pernah kami lalui. Berdua. Perjalanan yang sempat membuat keempat mata kaki saya tenggelam alias bengkak, tapi ingin mengulang kembali.  Bukan bengkaknya, hehehe, tapi nuansa ukhrowinya. "Saya tidak mungkin berangkat sendiri", sela saya. " Saya akan temani, itu kan niat baik njenengan, sapa tahu nanti disana ketemu "...", njenengan kan ingin "...",  saya akan mengeluarkan uang meski saya berhutang," sambung beliau dengan tawa sambil berlalu. Lantas...saya mencoba mengintip "niat baik" yang beliau katakan. Benarkah ini niat baik? Lillahi Ta'aala? atau sekedar obsesi saya akan "sesuatu"? Sepertinya justru kawan saya itulah yang memiliki niat baik. Semoga Allah membalas niat baik kawan saya dan mencatatnya sebagai amal baik, pemberat timbangan di Yaumul Hisab kelak. Aamiiin

Carilah Jalan Menuju Hidaya Rabb-mu. Aidh Abdullah al-Qarni di http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/carilah-jalan-menuju-hidayah-Rabbmu, mengingatkan saya akan semua hikmah yang Allah berikan. Pagi ini, setelah membaca tulian ini dan berbincang dengan kawan baik saya tadi, entah mengapa jantung saya berdetak lebih cepat (^_^)

Jum'at Raya...,
Ya Rabb... kumpulkanlah hamba bersama hamba-hamba yang Engkau cintai, ijinkanlah hamba ditengah majelis yang Engkau berkahi, jadikanlah mimpi-mimpi hamba nyata adanya. Ya Rabb...anugerahkanlah hamba akan cinta-Mu dan cinta orang-oarang yang cintanya bermanfaat bagiku disisi-Mu. Ya Allah...segala yang Engkau karuniakan kepadaku yang aku cintai, jadikanlah  ia kekuatanku dalam segala yang Engkau cintai. Ya Allah...segala yang engkau jauhkan dariku yang aku cintai, jadikanlah ia kehilanganku untuk segala yang Engkau cintai. Aamiiin.


Carilah Jalan Menuju Hidaya Rabb-mu,
Abud Dzar yang menyambut seruan dakwah Nabi Shallahu alaihi wa sallam, sesudah Nabi menyebarkan kepadanya dengan sederhana lagi mudah seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Sesudah itu Abu Dzar ra langsung pergi ke bukit Shafa, lalu berteriak : "Hai orang-orang Quraiys, aku telah mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".
Kalimat sangat menyengat perasaan pemimpin yang melampaui batas dari kalangan orang-orang kafir Quraiys. Mereka berdatangan kepadanya dari segala penjuru dan langsung memukulinya beramai-ramai, hinga hampir saja Abu Dzar tak sadarkan diri dan tubuhnya bermandikan darah. Rasul pun datang kepadanya,sedang tubuhnya penuh dengan darah, karena luka pukulan mereka dan keadaannya seakan-akan mengatakan :
"Jika memang menyenangkan hatimu apa yang telah dilakukan oleh orang yang dengki kepada kami, maka luka ini tidak lah terasa sakit , jika engkau merasa ridha kepadaku".
Rasul Shalallahu' alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda : "Aku tidak memerintahkan ini kepadamu".
Apa artinya pembelaan seperti ini? Apa artinya pengobanan seperti ini?
Selanjutnya, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sekarang pulanglah ke kampung kaummu. Sampai bersua nanti!
Abu Dzar ra pulang dan menebarkan hidayah kepada kaumnya, karena sesungguhnya seorang muslim pada hari dia masuk Islam, bertujuan agar dengan Dia memberi petunjuk kepada banyak orang, karena manusia sangat membutuhkan seruan dakwahnya.
"Engkau adalah perbendaharaan mutiara, dan pertama dalam kemelut dunia, meskipun mereka tidak mengenalmu. Engkau adalah dambaan semua generasi, mereka merindukan seruanmu yang tinggi, meskipun tidak mendengarmu".
Abu Dzar bangkit dan mengumpulkan semua kabilahnya di padang sahara, lalu berkata kepada mereka : "Darahku haram bagi darahmu, tubuhku haram bagi tubuhmu, dan harta haram bagi hartamu, sebelum kamu beriman kepada Allah", tegas Abu Dzar. Selanjutnya, Abu Dzar menerankgan agama Islam, seperti yang didengarnya dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.
Belum lagi ia tidur pada malam itu telah beriman sebanyak 70 keluarga berikut dengan kaum wanita, kaum pria, dan anak-anak mereka. Selanjutnya, Abu Dzar menghadap ke arah sebuah pohon yang ada di sana dan dia mulai bermeditasi, karena sesungguhnya dia belum mengetahui shalat dan memang shalat waktu itu belum difardhukan.
Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, tiba-tiba datang Abu Dzar di barisan paling depan dari kaummnya yang telah beriman. Para shahabat pun keluar. Mereka mengira bahwa di sana ada pasukan musuh yang datang dengan maksud menyerang kota Madinah.
Nabi Shallahu alaihi wa sallam keluar pula bersama dengan para shahabatnya dan ternyata yang datang adalah Abu Dzar, seorang lelaki yang hidup atas dasar kalimah "laa ilaaha illalloh", dan bersujud kepada Tuhan yang telah menurunkan kalimah "laa ilaaha illalloh", sedang dibelakangnya adalah para muridnya yang telah berhasil di-Islam-kannya.
Setelah melihat kedatangan peringatan dini yang membawa berita gembira alias Abu Dzar ra ini, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, tersenyum :
"Tiada seorang pun yang bernaung di kolong langit dan bercokol diatas hamparan bumi ini lebh jujur ucapannya, selain Abu Dzar", ujar Rasul Shallahu alaihi wa sallam.
Jadi, penyebab yang paling besar bagi seorang hamba untuk meraih hidayah ialah bila mempunyai keinginan yang keras untuk mendapatkannya sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (QS : al-Ankabut : 69).
Undang kami ke Baitullah-Mu Ya Rabb...

Sunday, 17 April 2011

Pahamilah Tulang Rusukmu


Tulisan sangat meng-inspirasi,  saya copy paste dari blog anungumar.wordpress.com. Alangkah indahnya risalah ini mengajarkan. Ada kalanya kita melihat satu sisi tanpa mau melihat sisi yang lain, bahwa sisi lain yang tak ingin kita lihat itu justru bermuatan hikmah, bernilai indah. Ilmu baru saya peroleh dari tulisan ini, dan semoga mampu meng-inspirasi.

“Sebagian orang begitu bersemangat berbicara tentang hadis ini, menyebarkan dan menekankannya secara berlebihan kepada masyarakat sehingga membuka peluang bagi kalangan orientalis untuk menyerang islam dan membuat fitnah di tengah-tengah orang awam, ‘Lihatlah, wanita terancam dalam islam!’ kata mereka mengomentari hadits ini“

Demikianlah kurang lebih perkataan yang disampaikan seorang dosen beberapa waktu lalu di kelas. Perkataan beliau itu muncul ketika sedang mengomentari suatu hadits yang sedang dipelajari. Hadits yang mungkin sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kita. Hadits apakah itu? Hadits itu yaitu: “Jika seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk melakukan hubungan suami istri) namun ia tidak menyambutnya, sehingga suaminya tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat pun melaknatnya sampai pagi hari. “(HR.Bukhari dan Muslim)

Beliau berkata (dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih), “Betul, kita meyakini dan menerima hadits ini dan tidak mengingkarinya, tapi jangan sampai kita memegang mati-matian hadits ini dan melupakan berbagai hadits lain tentang perintah untuk mempergauli wanita dengan baik. ”

Beliau lalu berkata, “Ketika seorang suami hendak mengajak istrinya untuk melakukan hubungan badan, maka jangan serampangan, hendaknya perhatikan pula kondisi fisik dan psikis istrinya. Namun, sangat disayangkan, sebagian suami menyuruh istri mereka kerja di luar rumah dengan alasan untuk membantu keuangan keluarga sehingga ia menghabiskan banyak waktu di luar. Ketika si istri ini pulang, tiba-tiba si suami memintanya untuk melakukan hubungan pasutri, tentu saja si istri kemungkinan besar menolak, sebab ia kecapaian, tenaganya sudah terkuras karena pekerjaan, sehingga hilanglah syahwatnya, tidak ada lagi selera untuk melakukan hubungan badan atau yang lebih kita kenal dengan nama frigid. Dan fenomena inilah (frigid) yang banyak terjadi di kalangan wanita zaman sekarang, ya ikhwah “

Lantas apakah penyebab frigid itu cuma karena keletihan? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepala. Ternyata pertanyaan itu terjawab oleh beliau. “Selain itu, sikap keras suami terhadap istri juga bisa menghilangkan mood seorang istri untuk melayani suami. Atau, bisa juga ketika ia melakukan hubungan suami istri ia lakukan secara kasar sehingga akhirnya tertekan psikisnya (istrinya) dan otomatis hilanglah gairahnya. Maka hendaknya perkara seperti ini harus diperhatikan oleh para suami. “

Subhanallah, bagus juga perkataan beliau. Sangat cocok untuk orang-orang ‘bertitel’ “suami” yang mendominasi isi kelas.

Beliau menambahkan, “Jadi, kalian jangan cuma bisa menuntut hak-hak kalian, tapi kalian sendiri tidak menunaikan hak-hak pasangan kalian.” Perkataan yang menampar! Entah siapa yang beliau tampar dengan perkataannya ini, apakah Antum merasa tertampar?

Beliau juga membacakan hadits:

“Berwasiatlah kepada wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Kalau engkau luruskan ia akan patah dan bila kau biarkan, akan tetap bengkok. Maka nasehatilah para wanita dengan baik. “(HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau berkata, “Hadits inilah yang perlu jadi acuan bagi seseorang dalam bergaul dengan seorang wanita (istri). Hendaknya senantiasa menasehatinya dengan baik. Karena disebutkan dalam hadits ini bahwa mereka itu diciptakan dari tulang bengkok, kalau diluruskan akan patah. Namun bila didiamkan saja akan terus bengkok. “

Beliau berkata lagi, “Jadi, perlu kesabaran dalam mendidik seorang istri itu, tidak bisa tergesa-gesa. Sebab bila tergesa-gesa memperbaikinya itu akan menyebabkannya patah, dan patahnya itu apa? Pisah. Sedangkan kalau dibiarkan saja, ia akan tetap dalam keadaannya yang seperti itu. Maka sabarlah. Jangan kalian terlalu berharap istri kalian 100% menunaikan hak kalian, itu tidak realistis. Sebab, pasti ada saja kebengkokan (kekurangannya) pada dirinya. Makanya, disinilah pentingnya tafahum(saling memahami dan memaafkan atas kekurangan yang didapatkan dari satu sama lain). Dan itulah faktor penting yang akan membuat rumah tangga menjadi langgeng. “

Hmm..Tafahum. Kata yang baru. Perlu dipraktekkan. Lantas bagaimana mempraktekkannya?

“Kalau kalian mengharapkan mereka tidak memiliki ‘cacat’, lantas kalian sendiri bagaimana? Ingatlah hadits Nabi kita yang bagaimana bunyinya? yaitu: ‘Janganlah seorang mukmin membenci mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” ujar beliau.

Subhanallah, betul juga perkataan beliau. Tafahum.. Ya, betul, tafahumTafahum itu suatu yang penting dalam kehidupan manusia. Tak ada kehidupan yang tentram dan damai tanpa ada tafahum.

Kalau dalam pertemanan dengan teman-teman di sekolah, kantor, dan tempat kerja lainnya saja sangat dibutuhkan tafahum untuk menjaga keharmonisan sesama, lantas apalagi dengan teman satu ikatan, satu atap dan satu… yang akan mendampingi seumur hidup tentunya.

Jadi, seakhwat-akhwatnya seorang akhwat, tetaplah ia seorang wanita, bukan bidadari. Ada kelebihan padanya, dan adapula kekurangannya. Maka hendaknya tafahum.

Sesalihah-salihahnya seorang wanita salihah, tetaplah ia seorang wanita. Ia memiliki kelebihan yang banyak, tapi jangan lupa, ia juga bukan bidadari. Maka hendaknyatafahum.

Sebagaimana kalian mengharapkan pasangan kalian menunaikan hak-hak kalian, maka hendaknya demikian pula kalian, tunaikanlah hak-hak pasangan kalian.

Sebagaimana kalian menghendaki istri kalian salihah, maka hendaknya demikian pula kalian, jadilah orang yang saleh.

Jika kalian menghendaki pasangan kalian menjadi Aisyah, maka jadilah kalian Muhammad صلى الله عليه وسلم. Jika kalian menghendaki pasangan kalian menjadi Fathimah, maka jadilah kalian Ali bin Abi Thalib. Maka tafahum-lah.

Dan tafahum inilah, sebagaimana kata dosen di atas, salah satu faktor yang akan menyelamatkan rumah tangga dari keretakan dan pahitnya perpisahan. Ada seseorang berkata, “Kepala saya udah panas (karena percekcokan), hampir aja saya cerain istri, tapi waktu inget kebaikan-kebaikannya, saya jadi nggak tega untuk cerain dia. “ Perkataan yang perlu diambil pelajaran. Perkataan yang muncul tidak hanya dari lisan satu atau dua orang saja, melainkan berkali-kali telinga ini mendengar seperti itu.

Dan itulah yang diarahkan oleh Nabi kita di dalam hadits di atas. Dan yang dituntunkan pula oleh Rabb kita dari atas langit ke tujuh:  “Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan baik. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. “ (An-Nisa: 19)



Jakarta, 11 Jumadil Awwal 1432/15 April 2011

Friday, 15 April 2011

Astaghfirullah...


Tak biasa aku sendiri begini. Membisu, berkawan tumpukkan buku-buku di meja kantor, juga deretan buku kawan-kawan penghias meja mereka. Terakhir kawan kantor pamitan dengan mata tak tega meninggalku, pukul 13.30 WIB. Hmmm...hingga 15.00 WIB bakalan sendirian. Suara molen, pekerja bangunan yang menambah bangunan lantai 2 menderu mengalahkan suara streaming-ku. Aku coba menambah volume streaming. Hasil pertarungan, suara molen seakan masuk lewat telinga kiri, suara streaming seakan masuk telinga kanan. Aroma bawang putih dari makan siangku menyengat. Lotek, campuran berbagai sayuran dengan bumbu kacang tanah, cabe, bawang putih, kencur, daun jeruk, terasi, air asam, ditambah ketupat dan krupuk. Wuih...kadang diri ini sering tergoda meski menu ini tak satu kali pun aku makan dalam waktu satu bulan. Sebenarnya aku tadi hanya membeli setengah porsi, tapi masya Allah, setengah saja harus aku makan dengan jeda. Aku harus memberi ruang gerak isi lambung ini. Padahal lotek jika tidak sekali habis rasanya akan jadi aneh. Hmmm...mau gimana lagi. Meski tadi pagi sarapan bubur seharga Rp. 1500,- saja, plus sebutir telur rebus ternyata tak mengubah jumlah makanku.
Aku jadi ingat, ahad lalu.
“Assalaamu’alaikum!!!”  salam itu mengusik kenyamanan kami melalui lubang angin jendela kamar. Sepertinya aku mengenal suara itu. Pukul 21. 14 WIB. Lampu ruang tamu rumah sudah dimatikan. Seluruh penghuni rumah kami sibuk di kamar masing-masing. “Mau ngapain ya...” celetuk si bungsu. “Nganter nasi kali” tebakku. Kami berdua tak beranjak meski sudah menjawab salam. Adikku yang berada di kamar sebelah terdengar membukakan pintu.  Sayup-sayup kami mendengar percakapan di luar. “Astaghfirrullahal’adziiim...” guman si bungsu. Beberapa detik berikutnya tawa kami pecah. “Wong di kasih makanan orang kok malah istighfar yo Mbak”, katanya. “Sudah jam segini, lagian makanan kita masih sisa banyak kan Mbak,” lanjut dia. “ Kita simpan untuk besuk pagi...” sahutku. Benar. Sepupu kami mengirim makanan. Kami tidak tahu kalau mereka ada acara.
Dua hari dapur kami tidak mengepul. Hari sebelumnya kami mendapat kiriman makanan dari kakak ipar. Malamnya kami membawa pulang lagi makanan karena mengikuti acara di rumahnya. Dari pada mubazir, akhirnya kami simpan saja untuk esuk paginya. Alhamdulillah tidak perlu masak. Cukup untuk makan pagi dan makan siang. Belum juga kami makan siang, eeee...kami dapat kiriman makan siang plus kotak syukuran dari saudara yang aqiqah-an. Alhamdulillah dapat makanan segar. Ba’da ashar kami ke rumah mereka berniat membantu mengantar makanan ke tetangga. Dan tentu saja di sana kami disuruh makan. Aku sedang ada jadual puasa saat itu, maka aku katakan saja, maaf aku puasa. Kedua adikku meski belum lapar, akhirnya makan untuk menghormati mereka. Menjelang maghrib kami ijin pulang, kedua adikku pulang lebih dulu. Keberuntungan, disebabkan aku tidak makan di sana maka jatah makanku dibawain pulang, “Untuk buka puasa di rumah,” kata saudaraku khawatir makanan di rumah habis. Aku sudah berusaha meyakinkan mereka bahwa di rumah masih banyak. Tak mempan. Akhirnya aku dibawain lauk tanpa nasi. Alhamdulillah.
“Mbak, dapet syukuran aqiqah dari Mbak Bekti,” kata adikku menyambut kedatanganku. “Alhamdulillah...padahal aku juga dibawain makanan Bu Tukinah lho, banyak banget...” sahutku. Bekti, salah satu sahabat baikku. Rumahnya sekitar 6 km dari rumahku. Sering sekali dia mengirim makanan ke tempatku. Alhamdulillah ya Allah. kami benar-benar berlimpah rezeki, dan tidak juga berbagi ke tetangga dekat karena kami tahu bahwa mereka juga mendapat rezeki melalui saudara kami yang syukuran. Akhirnya sisa makan malam kami, kami simpan untuk esuk hari hingga kami mendapat tambahan rezeki lagi.

kesukaanku ^_^
Istighfar mungkin ucapan paling tepat yang mesti kami lafazkan. Agar limpahan nikmat ini tak berujung ujian yang membuat kami terlena. Agar kami tak menyantap makanan berlebih ke dalam perut ini meski kami memiliki lebih. Agar kami mampu menyimpan makanan dengan baik sehingga ia tak terbuang percuma. Agar kami tak memubazirkan mereka. Agar kami mampu mengatur waktu makan dan teguh dalam etika. Agar setiap suap yang kami masukkan menjadi energi menuju-Mu. Agar setiap suap ini kami barengi Asma-Mu penuh kesyukuran.
Aku kemudian teringat akan risalah ini. Betapa mulianya Islam mengajarkan. Ini tentang makanan. Makan adalah kewajiban. Dengan makan seorang muslim memperoleh kekuatan untuk beribadah. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn Umar: ”Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi”. Namun demikian ada batasan dalam mengkonsumsi makanan, yaitu menjauhi sikap berlebihan dan rakus. Banyak sekali dalil yang menekankan hal ini. Allah berfirman, ”Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf ayat 31). Juga di surat Thaha ayat 81, Makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan pada kalian, dan janganlah melampaui batas padanya”.
Rasulullah SAW juga telah memerintahkan untuk mengatur waktu makan dan berpegang teguh pada etika, sebagaimana sabda Beliau, ”Kami adalah orang-orang yang tidak makan kecuali setelah lapar, dan bila makan kami tidak sampai kenyang”. Beliau juga bersabda, Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim). Hadis ini menjelaskan bahwa makanan dalam porsi minimal pun sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok anak cucu Adam. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Darimi, Rasulullah SAW juga bersabda, ”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan orang”. Dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan”. (HR Ibnu Majah). Beliau pun bersabda, Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir makan dengan tujuh usus”. (HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Ada kalanya kita mengalami kekurangan dalam mensikapi sesuatu. Namun tak ada salahnya kita berbenah diri. Demikian juga sikap kita dalam hal makanan. Jika tak ada tempat untuk berbagi, tak ada salahnya mengelolanya agar tak terbuang sia-sia.

Jum’at, 8 April 2011

Saturday, 8 January 2011

Do'a Robithoh


Setiap membaca doa ini entah mengapa haru menyeruak dalam kalbu. Haru atas persaudaraan yang terikrar meski bukan sedarah. Haru atas persaudaraan hingga engkau menyebut diri ini melebihi saudara sedarahmu. Haru atas persaudaraan yang mampu mengenalimu meski diri pertama bersua. Haru atas persaudaraan yang mampu  mengikat meski diri ini entah siapa, engkau juga siapa. Haru atas persaudaraan bak magnet yang mampu menarik diri ini di antara kerumunan menujumu, hingga kerumunan tersibak, terlihatlah engkau kemudian diri ini lebih mengenalmu. Haru atas persaudaraan yang senantiasa menguat di setiap pertemuan. Haru atas persaudaraan meski tak pernah bersua. Haru atas persaudaraan bak oase di padang pasir, yang mampu meluluhkan hati yang membatu. Haru atas persaudaraan yang mampu meleburkan kasta, tahta, juga warna kulit ini. Haru atas persaudaraan yang mampu mudahkanlah apa yang sulit, meringankan apa yang berat, dan memberi jalan keluar apa yang buntu. Haru atas persaudaraan yang menginginkan kita bertetangga di surga Allah. Haru atas persaudaraan dan keikhlasan doa yang mampu mengguncang ‘Arsy. Mengharu biru memohon cinta-Mu ya Rabb...dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu...

Ya Alloh, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul karena kecintaan kami kepada-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk komitmen dalam menjalankan syari’at-Mu maka eratkanlah ikatannya, Ya Alloh. Kekalkanlah kemesraannya antara hati-hati ini. Tunjukilah kepada hati – hati ini akan jalan yang sebenarnya. Penuhilah hati – hati ini dengan nur cahaya Rabbani-Mu yang tidak kunjung pudar. Lapangkanlah hati – hati ini dengan limpahan iman dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidup suburkanlah hati-hati ini dengan ma’rifah tentang-Mu. Jika Engkau mentakdirkan mati maka wafatkanlah pemilik hati – hati ini syahid di jalan-Mu. Engkau-lah sebaik-baik sandaran dan sebaik – baik penolong. Ya Alloh, perkenankanlah permintaan ini. Ya Alloh, restuilah dan sejahterakanlah junjungan kami Muhammad, keluarga, dan para sahabat Baginda semuanya. Aaamiin
Do’a Robithoh

Sujud

Sunday, 2 January 2011

Momentum Muharrom, Momentum Perubahan, Siapa Takut!!!???


Momentum Dulhijjah terlewat sudah...tahun baru Hijriah tiba. Bulan Muharom, salah satu dari keempat bulan haram (Muharam, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah) sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an surat At-Taubah:36.

Momentum Muharrom, dapat kita ketahui dari beberapa riwayat berikut ini ;
1.    Dari Ibnu Abbas r.a Rosulullah SAW bersabda,” Siapa yang puasa pada hari ‘aasyuura maka Allah akan memberi kepadanya pahala sepuluh ribu malaikat, dan siapa yang puasa pada hari ‘aasyuuraa’ maka akan diberi pahala sepuluh ribu orang berhaji dan umroh, dan sepuluh ribu orang mati syahid, dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari ‘aasyuura maka Alloh akan menaikkan dengan tiap rambut satu derajat. Dan siapa yang memberi buka puasa pada orang mukmin yang puasa ‘aasyuuraa’ maka seolah-olah memberi buka semua ummat Muhammad SAW dan mengenyangkan perut mereka. Sahabat bertanya : Ya Rosulullah, Allah telah melebihkan hari ‘aasyuuraa’ dari lain-lain hari. Jawab Nabi : benar. Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari ‘aasyuuraa’, dan menjadikan bukit-bukit pada hari ‘aasyuura’, dan menjadikan laut pada hari ‘aasyuuraa’ dan menjadikan lauh, qalam pada hari ‘aasyuura’ dan menjadikan Adam juga Hawa pada hari ‘aasyuuraa’, dan menjadikan surga serta memasukkan Adam di surga pada hari ‘aasyuuraa’, dan lahir Nabi Ibrahim pada hari ‘aasyuuraa’, dan Allah menyelamatkan dari api hari ‘aasyuuraa’, dan menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘aasyuuraa’, dan menyembuhkan bala’ Nabi Ayyub pada hari ‘aasyuuraa’ dan Allah member taubat kepada Adam pada hari ‘aasyuuraa’, dan diampunkan dosa Nabi Dawud, juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari ‘aasyuuraa’, dan akan terjadi Qiyamat pada hari ‘aasyuuraa’.
2.    "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam." (HR Muslim)
3.    Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah) memiliki dua hikmah.Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah dalam mengharamkan bulan Muharam. Pengharaman bulan ini untuk perang adalah mutlak hak Allah saja, tidak seorang pun selain-Nya berhak mengubah keharaman dan kemuliaan bulan Muharam.
4.    Aisyah--semoga Allah meridainya-pernah ditanya tentang puasa 'aasyuura, ia menjawab, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam." (HR Muslim).
5.    Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari 'aasyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa. Dari Ibnu Abbas r.a., ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah saw. bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa." Rasulullah saw. bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian."
6.    Abu Qatadah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Puasa 'aasyuura menghapus dosa satu tahun, sedang puasa arafah menghapus dosa dua tahun." (HR Muslim, Tirmizi, Abu Daud).
7.    Pada awalnya, puasa 'aasyuura hukumnya wajib. Namun, setelah turun perintah puasa Ramadan, hukumnya menjadi sunah. Aisyah r.a. berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan untuk puasa 'aasyuura sebelum turunnya perintah puasa Ramadan. Ketika puasa Ramadan diperintahkan, siapa yang ingin boleh puasa 'aasyuura dan yang tidak ingin boleh tidak berpuasa 'aasyuura." (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi).
8.    Ibnu Abbas r.a. menyebutkan, Rasulullah saw. melakukan puasa 'aasyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, "Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam." Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud). Berdasar pada hadis ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam. Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Puasalah pada hari 'aasyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum 'asyuura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad).Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu' Syarhul Muhadzdzab VI/406) . Wallahu a'lam.


Momentum Perubahan
Merubah diri untuk senantiasa membaik baik iman juga akhlak kita dengan penuh perencanaan dari awal. Seperti termuat dalam Al Qur’an, Allah berfirman ;
            ''Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat).'' QS 59:18
Hadist Rasulullah, ''Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.''

Segala sesuatunya kembali pada diri kita, mau atau tidak merencanakan masa depan yang lebih baik. Memang...menjadi lebih baik tak harus menunggu tahun baru, tapi tak ada salahnya kita menggunakan tahun baru untuk instropeksi diri. Mengevaluasi diri. Bermimpi dan merancang ikhtiar untuk mewujudkan mimpi kita itu. Jadikanlah momentum muharraom sebagai momentum perubahan. Jika tidak sekarang, kapan lagi?
“SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH... SEMOGA ALLAH SWT SENANTIASA MEMBERKAHI DI TIAP HEMBUSAN NAFAS KITA, MEMUDAHKAN URUSAN-URUSAN KITA, MELAPANGKAN NIKMAT-NYA”
akhir 1429 H
Kenangan Lingkaran Kecil, dari Sabang-Merauke